Amma ba’du …
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)
Yang dimaksud dalam hadits adalah tiga amalan yang tidak terputus pahalanya:
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).
Sebagai orang tua tentunya mendambakan anak yang salih-salihah dan menjadi ahli Al-Quran. Karena banyak keutamaan orang yang menghidupkan Al-Qur’an diantaranya:
1. Orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Quran adalah hamba-hamba yang terbaik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
2. Seseorang tidak akan tersesat, akan diberi petunjuk, serta tidak bisa disesatkan. Barangsiapa yang berpegang dengan Kitabullah, ia tidak tersesat selamanya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).
3. Akan mendapat syafaat dari Al-Quran.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim)
4. Al-Quran akan mengangkat derajat seseorang di dunia dan akhirat.
“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab Al-Quran ini beberapa kaum dan juga dengan kitab Al-Quran ini Allah merendahkan yang lainnya.” (HR. Muslim)
Rumah-rumah kaum muslimin dilihat dari perspektif bagaimana mereka menciptakan hubungan antara anak-anak dengan Al-Quran ada tiga jenis:
Tipe rumah nomor tiga Ini yang harus kita diwujudkan sebagai orangtua.
“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Thalibin, 2: 190).
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim, no. 783)
Ketika mengajak anak untuk menghafal Al-Quran tunggulah mood anak bagus serta dalam keadaan senang. Sehingga ia bisa fokus dan semangat menghafal dan murajaah.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti.” (QS. Yusuf: 2)
Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.”
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah (membaca dengan perlahan) sebagaimana engkau menartilkannya di dunia, karena kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 1464 dan Tirmidzi, no. 2914. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini sahih].
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Hafalkanlah (dan rutinkanlah) membaca Al-Qur’an. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang lepas dari ikatannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, 9:79 dan Muslim, no. 791]
“Kami menghafalkan Al Qur’an dalam sehari sebanyak lima ayat dan kami tidaklah menambah lebih dari itu sampai kami menguasai tafsir ayat-ayat tersebut. Sungguh akan datang kaum di mana mereka menghafalkan Al Qur’an seluruhnya, namun mereka tidak mengamalkannya. Mereka begitu mantap menguasai huruf-hurufnya, namun mereka tidak memahami aturan-aturan dalam Al Qur’an.”
Inilah di antara kiat menghafalkan Al Qur’an, kuasai pula tafsirnya. Hal ini akan membuat hafalan kita lebih mantap dan lebih khusyu’ ketika membacanya terutama dalam ibadah shalat.
Ada 6 kiat sederhana sebagai penghafal Al Qur’an:
Menjadi penghafal al-Qur’an adalah sebuah karunia, maka tidak ada kata yang tepat kecuali mensyukuri karunia tersebut dengan cara menjaga, memelihara, dan menambah. Hafalan yang sudah dipegang dengan baik dijaga dan dipelihara dengan cara memperbanyak muraja’ah. Dan hafalan itu akan lebih lekat di hati jika dipahami kandungan isinya dan diamalkah dalam kehidupan sehari-hari.
“Jagalah al-Qur’an ini, demi dzat yang jiwaku berada dalam tangan-Nya. Sungguh dia lebih gampang terlepas daripada unta yang diikat.” (Riwayaat Bukhari dan Muslim)
Di kalangan para penghafal dan pecinta al-Qur’an sangat dikenal istilah “menghafal itu berat, tapi mempertahankan hafalan itu jauh lebih berat lagi.” Menghafal 30 juz itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan, tapi mempertahankan hafalan hingga akhir hayat itu diperlukan perjuangan, keuletan, kesabaran, keistqamahan secara total.
Syeikh Utsaimin pernah ditanya seorang mahasiswa semerter akhir yang karena kesibukan belajarnya lalu terlupa beberapa hafalannya. Beliau menjawab, lupa itu ada dua macam. Pertama, lupa karena secara alamiah menjadi sifat manusia. Lupa jenis ini tidak berdosa karena bukan termasuk maksiat kepada Allah SWT. Kedua, lupa karena sengaja mengabaikannya. Di dalamnya ada unsur kesengajaan. Oleh karena itu, melupakan hafalan Qur’an jenis kedua ini merupakan maksiat dan dosa. Bahkan oleh beberapa ulama menyebutnya sebagai dosa besar.
Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi Salallahu alaihi wassalam:
“Barangsiapa yang menghafal al-Qur’an kemudian melupakannya, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam keadaaan terserang penyakit kusta.” (Riwayat Abu Dawud)
Ancaman terhadap orang yang telah diberi karunia hafalan al-Qur’an lalu melupakannya merupakan suatu hal yang wajar, karena hanya orang-orang yang lalai dan kufur nikmat saja yang dengan sengaja melupakan hafalan al-Qur’an yang sangat istimewa. Orang-orang yang dalam hatinya ada iman, pasti akan berusaha menjaga hafalannya dengan sebaik-baiknya.
Adapun terhadap mereka yang lupa hafalan al-Qur’an tanpa diiringi keinginan untuk melupakan atau lalai karena kesibukan dunia, termasuk belajar ilmu yang lain, sementara dalam hatinya masih ada iman dan keinginan untuk mengatasi kelupaannya, maka hukumnya tidak berdosa karena tidak termasuk maksiat kepada Allah SWT. Hal tersebut didasarkan pada ketentuan Al-Baqarah[2]: 286
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapatkan siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Al-Baqarah[2]: 286)
Akhirnya, kepada mereka yang sudah hafal al-Qur’an, baik sebagian maupun keseluruhan, maka kewajiban kita adalah menjaga, merawat, dan mempertahankannya. Cara yang paling efektif adalah dengan mengulang-ulang, memahami kandunga arti dan menjadikannya sebagai amalan keseharian.